TIDAK ADA PANGKAT DALAM DAKWAH
Dari Buku: Rambu-Rambu Tarbiyah, oleh Abdul Hamid Jazim Al Bilaly
Ibnu Ishaq berkata, Azzuhri bercerita kepadaku bahwa Rasulullah datang ke bani Amir bin Sha'sha'ah mengajak mereka ke dalam Islam dan menjelaskan kenabiannya kepada mereka. Seorang bernama Bahirah bin faras berkata; "Demi Allah, jika aku ambil pemuda ini dari Quraisy, niscaya orang-orang Arab akan memperebutkannya. Bagaimana pendapatmu seandainya aku mengikuti ajakkanmu, kemudian Allah memenangkanmu dari orang-orang yang memusuhi kamu. Adakah bagian bagi kami setelah itu?"
"Bagian itu hak Allah, Ia berikan kepada siapa yang dikehendaki." "Akankah kami menyerahkan leher kepada orang Arab, padahal setelah Allah memengkanmu hasilnya milik orang lain. Kami tidak perlu lagi kepadamu!" katanya.
Maka rasulpun meninggalkan mereka karena tak ingin menerima kemenangan bersyarat dari orang-orang bani amir bin Sha'sha'ah.
Demikianlah yang selayaknya disadari oleh setiap orang yang ingin berkomitmen terhadap jamaah yang menyeru kepada Allah. Tidak mengharapkan darinya jabatan atau imbalan dunia karena dakwah ini untuk Allah. Segala urusan adalah kepunyaan Allah yang diberikan semauNya.
Orang yang terlibat dalam problematika dakwah harus mengawali dengan pengharapan kepada ridha Allah, bekerja demi mengangkat panjinya. Namun, jika jabatan yang menjadi idamannya, inilah indikasi bahaya yang bersumber dari kebusukkan niatnya. Untuk itulah yahya bin Muadz berkata; "Tidak akan beruntung siapa yang tercium darinya aroma ambisi kepemimpinan."
Yusuf Meminta Jabatan
Dalam Islam, jabatan bukannya diminta kecuali jika terjadi krisis dalam hal potensi kepemimpinan atau umat dalam bahaya disebabkan adanya makar dari orang orang fasiq yang berambisi merebut tampuk kepemimpinan. Saat itu selayaknya diminta oleh mereka yang merasa memiliki kemampuan. Bukan semata-mata karena nafsu kekuasaan, melainkan agar tidak diduduki oleh orang yang bermoral rendah dan merusak.
Dalam hal ini kasus nabi Yusuf as adalah sebaik-baik contohnya. Ketika ia melihat orang yang lebih berpotensi daripada dirinya, ia berkata kepada Raja: Berkata Yusuf: "jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan."
Hal itu ia ungkapkan setelah raja menawarkan kedudukan kepadanya. Dan raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku." Maka tatkala raja bercakap-cakap kepadanya ia berkata; "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." (Yusuf:54)
Sayyid Qutb berkata, "Sungguh ia tidak sujud sebagai rasa terima kasih sebagaimana sujudnya orang-orang penjilat kepada thoghut, ia tidak berkata kepadanya, aku hidup wahai Paduka, sebagai hambamu yang tunduk, atau pembantumu yang terpercaya, sebagaimana kata para penjilat itu. Bukan! Ia meminta karena merasa mampu menanggung prahara pada masa itu. Ia telah meramalkan mimpi raja, itu lebih baik daripada diduduki orang lain pada negeri itu. Karena dengannya ia yakin akan mampu menyelamatkan sekian jiwa dari ancaman maut, menjaga negara dari keruntuhan dan menyelamatkan rakyat dari krisi kelaparan.
Orang-orang yang turut mendorong laju kereta dakwah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan, tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia
mulai menapakkan kakinya ke pintu dakwah sebagai prajurit. Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah disana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah. Ketidakserasian dalam dakwah terjadi manakala ia telah memperoleh kepada selain Allah dan nafsu membisikinya atas nama menuntut hak-hak.
Rasulullah menjadikan masalah ini terang bagai matahari ketika orang-orang berbaiat kepadanya pada ba'iat yang pertama dan kedua dengan sabdanya, "Jika kalian penuhi (baiat ini) maka bagi kalian adalah surga.
Beliau tidak menjanjikan bagi mereka kedudukan, harta atau atribut duniawi lainnya. Beliau mengkaitkan dnegan masalah akhirat hingga melambungkan jiwa dan harapan mereka dari dunia ke langit yang paling tinggi, Rasulullah memuji tipe dai yang seperti ini, yang tiada berharap kecuali ridha Allah ta'ala dan pada gilirannya tidaklah penting baginya posisi tugasnya, di garis depan atau belakang, Rasulullah bersabda: "Alangkah bagusnya seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut, kakinya berdebu. Jika mendapat berjaga ia berjaga. Jika tugasnya di barisan belakang ia tetap di belakang dan jika di depan tetap di depan."
Ibnul jauzi berkata, "Artinya ia tidaklah disebut-sebut, tidak menginginkan ketinggian. Jika diberi tugas untuk berjalan, ia berjalan, seakan Rasulullah berkata, "Jika berjaga malam (hirasah) terus-menerus berjaga dan jaga bertugas di barisan belakang senantiasa disana."
Ibnu hajar berkata, "pada hadits itu terdapat anjuran untuk membuang kecintaan kepada riyasah (ambisi kepemimpinan) dan popularitas, serta keutamaan ketidakterkenalan dan tawadhu."
Tipe dai seperti itulah yang membuat suksesnya dakwah. Adapun para pemuja ambisi kepemimpinan, jabatan dan ketenaran, merekalah yang bakal menjadi batu-batu sandungan terhadap suksesnya Harakah Islamiyah.
Ibnu Ishaq berkata, Azzuhri bercerita kepadaku bahwa Rasulullah datang ke bani Amir bin Sha'sha'ah mengajak mereka ke dalam Islam dan menjelaskan kenabiannya kepada mereka. Seorang bernama Bahirah bin faras berkata; "Demi Allah, jika aku ambil pemuda ini dari Quraisy, niscaya orang-orang Arab akan memperebutkannya. Bagaimana pendapatmu seandainya aku mengikuti ajakkanmu, kemudian Allah memenangkanmu dari orang-orang yang memusuhi kamu. Adakah bagian bagi kami setelah itu?"
"Bagian itu hak Allah, Ia berikan kepada siapa yang dikehendaki." "Akankah kami menyerahkan leher kepada orang Arab, padahal setelah Allah memengkanmu hasilnya milik orang lain. Kami tidak perlu lagi kepadamu!" katanya.
Maka rasulpun meninggalkan mereka karena tak ingin menerima kemenangan bersyarat dari orang-orang bani amir bin Sha'sha'ah.
Demikianlah yang selayaknya disadari oleh setiap orang yang ingin berkomitmen terhadap jamaah yang menyeru kepada Allah. Tidak mengharapkan darinya jabatan atau imbalan dunia karena dakwah ini untuk Allah. Segala urusan adalah kepunyaan Allah yang diberikan semauNya.
Orang yang terlibat dalam problematika dakwah harus mengawali dengan pengharapan kepada ridha Allah, bekerja demi mengangkat panjinya. Namun, jika jabatan yang menjadi idamannya, inilah indikasi bahaya yang bersumber dari kebusukkan niatnya. Untuk itulah yahya bin Muadz berkata; "Tidak akan beruntung siapa yang tercium darinya aroma ambisi kepemimpinan."
Yusuf Meminta Jabatan
Dalam Islam, jabatan bukannya diminta kecuali jika terjadi krisis dalam hal potensi kepemimpinan atau umat dalam bahaya disebabkan adanya makar dari orang orang fasiq yang berambisi merebut tampuk kepemimpinan. Saat itu selayaknya diminta oleh mereka yang merasa memiliki kemampuan. Bukan semata-mata karena nafsu kekuasaan, melainkan agar tidak diduduki oleh orang yang bermoral rendah dan merusak.
Dalam hal ini kasus nabi Yusuf as adalah sebaik-baik contohnya. Ketika ia melihat orang yang lebih berpotensi daripada dirinya, ia berkata kepada Raja: Berkata Yusuf: "jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan."
Hal itu ia ungkapkan setelah raja menawarkan kedudukan kepadanya. Dan raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku." Maka tatkala raja bercakap-cakap kepadanya ia berkata; "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." (Yusuf:54)
Sayyid Qutb berkata, "Sungguh ia tidak sujud sebagai rasa terima kasih sebagaimana sujudnya orang-orang penjilat kepada thoghut, ia tidak berkata kepadanya, aku hidup wahai Paduka, sebagai hambamu yang tunduk, atau pembantumu yang terpercaya, sebagaimana kata para penjilat itu. Bukan! Ia meminta karena merasa mampu menanggung prahara pada masa itu. Ia telah meramalkan mimpi raja, itu lebih baik daripada diduduki orang lain pada negeri itu. Karena dengannya ia yakin akan mampu menyelamatkan sekian jiwa dari ancaman maut, menjaga negara dari keruntuhan dan menyelamatkan rakyat dari krisi kelaparan.
Orang-orang yang turut mendorong laju kereta dakwah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan, tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia
mulai menapakkan kakinya ke pintu dakwah sebagai prajurit. Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah disana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah. Ketidakserasian dalam dakwah terjadi manakala ia telah memperoleh kepada selain Allah dan nafsu membisikinya atas nama menuntut hak-hak.
Rasulullah menjadikan masalah ini terang bagai matahari ketika orang-orang berbaiat kepadanya pada ba'iat yang pertama dan kedua dengan sabdanya, "Jika kalian penuhi (baiat ini) maka bagi kalian adalah surga.
Beliau tidak menjanjikan bagi mereka kedudukan, harta atau atribut duniawi lainnya. Beliau mengkaitkan dnegan masalah akhirat hingga melambungkan jiwa dan harapan mereka dari dunia ke langit yang paling tinggi, Rasulullah memuji tipe dai yang seperti ini, yang tiada berharap kecuali ridha Allah ta'ala dan pada gilirannya tidaklah penting baginya posisi tugasnya, di garis depan atau belakang, Rasulullah bersabda: "Alangkah bagusnya seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut, kakinya berdebu. Jika mendapat berjaga ia berjaga. Jika tugasnya di barisan belakang ia tetap di belakang dan jika di depan tetap di depan."
Ibnul jauzi berkata, "Artinya ia tidaklah disebut-sebut, tidak menginginkan ketinggian. Jika diberi tugas untuk berjalan, ia berjalan, seakan Rasulullah berkata, "Jika berjaga malam (hirasah) terus-menerus berjaga dan jaga bertugas di barisan belakang senantiasa disana."
Ibnu hajar berkata, "pada hadits itu terdapat anjuran untuk membuang kecintaan kepada riyasah (ambisi kepemimpinan) dan popularitas, serta keutamaan ketidakterkenalan dan tawadhu."
Tipe dai seperti itulah yang membuat suksesnya dakwah. Adapun para pemuja ambisi kepemimpinan, jabatan dan ketenaran, merekalah yang bakal menjadi batu-batu sandungan terhadap suksesnya Harakah Islamiyah.
