<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126</id><updated>2011-04-21T13:20:10.808-07:00</updated><title type='text'>tazqiroh</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-115116572206030455</id><published>2006-06-24T09:13:00.000-07:00</published><updated>2006-06-24T09:19:21.230-07:00</updated><title type='text'>TIDAK ADA PANGKAT DALAM DAKWAH</title><content type='html'>Dari Buku: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rambu-Rambu Tarbiyah&lt;/span&gt;, oleh Abdul Hamid Jazim Al Bilaly&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Ishaq berkata, Azzuhri bercerita kepadaku bahwa Rasulullah datang ke bani Amir bin Sha'sha'ah mengajak mereka ke dalam Islam dan menjelaskan kenabiannya kepada mereka. Seorang bernama Bahirah bin faras berkata; "Demi Allah, jika aku ambil pemuda ini dari Quraisy, niscaya orang-orang Arab akan memperebutkannya. Bagaimana pendapatmu seandainya aku mengikuti ajakkanmu, kemudian Allah memenangkanmu dari orang-orang yang memusuhi kamu. Adakah bagian bagi kami setelah itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagian itu hak Allah, Ia berikan kepada siapa yang dikehendaki." "Akankah kami menyerahkan leher kepada orang Arab, padahal setelah Allah memengkanmu hasilnya milik orang lain. Kami tidak perlu lagi kepadamu!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka rasulpun meninggalkan mereka karena tak ingin menerima kemenangan bersyarat dari orang-orang bani amir bin Sha'sha'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang selayaknya disadari oleh setiap orang yang ingin berkomitmen terhadap jamaah yang menyeru kepada Allah. Tidak mengharapkan darinya jabatan atau imbalan dunia karena dakwah ini untuk Allah. Segala urusan adalah kepunyaan Allah yang diberikan semauNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang terlibat dalam problematika dakwah harus mengawali dengan pengharapan kepada ridha Allah, bekerja demi mengangkat panjinya. Namun, jika jabatan yang menjadi idamannya, inilah indikasi bahaya yang bersumber dari kebusukkan niatnya. Untuk itulah yahya bin Muadz berkata; "Tidak akan beruntung siapa yang tercium darinya aroma ambisi kepemimpinan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yusuf Meminta Jabatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, jabatan bukannya diminta kecuali jika terjadi krisis dalam hal potensi kepemimpinan atau umat dalam bahaya disebabkan adanya makar dari orang orang fasiq yang berambisi merebut tampuk kepemimpinan. Saat itu selayaknya diminta oleh mereka yang merasa memiliki kemampuan. Bukan semata-mata karena nafsu kekuasaan, melainkan agar tidak diduduki oleh orang yang bermoral rendah dan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kasus nabi Yusuf as adalah sebaik-baik contohnya. Ketika ia melihat orang yang lebih berpotensi daripada dirinya, ia berkata kepada Raja: Berkata Yusuf: "jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu ia ungkapkan setelah raja menawarkan kedudukan kepadanya. Dan raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku." Maka tatkala raja bercakap-cakap kepadanya ia berkata; "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." (Yusuf:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb berkata, "Sungguh ia tidak sujud sebagai rasa terima kasih sebagaimana sujudnya orang-orang penjilat kepada thoghut, ia tidak berkata kepadanya, aku hidup wahai Paduka, sebagai hambamu yang tunduk, atau pembantumu yang terpercaya, sebagaimana kata para penjilat itu. Bukan! Ia meminta karena merasa mampu menanggung prahara pada masa itu. Ia telah meramalkan mimpi raja, itu lebih baik daripada diduduki orang lain pada negeri itu. Karena dengannya ia yakin akan mampu menyelamatkan sekian jiwa dari ancaman maut, menjaga negara dari keruntuhan dan menyelamatkan rakyat dari krisi kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang turut mendorong laju kereta dakwah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan, tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia&lt;br /&gt;mulai menapakkan kakinya ke pintu dakwah sebagai prajurit. Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah disana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah. Ketidakserasian dalam dakwah terjadi manakala ia telah memperoleh kepada selain Allah dan nafsu membisikinya atas nama menuntut hak-hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menjadikan masalah ini terang bagai matahari ketika orang-orang berbaiat kepadanya pada ba'iat yang pertama dan kedua dengan sabdanya, "Jika kalian penuhi (baiat ini) maka bagi kalian adalah surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak menjanjikan bagi mereka kedudukan, harta atau atribut duniawi lainnya. Beliau mengkaitkan dnegan masalah akhirat hingga melambungkan jiwa dan harapan mereka dari dunia ke langit yang paling tinggi, Rasulullah memuji tipe dai yang seperti ini, yang tiada berharap kecuali ridha Allah ta'ala dan pada gilirannya tidaklah penting baginya posisi tugasnya, di garis depan atau belakang, Rasulullah bersabda: "Alangkah bagusnya seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut, kakinya berdebu. Jika mendapat berjaga ia berjaga. Jika tugasnya di barisan belakang ia tetap di belakang dan jika di depan tetap di depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul jauzi berkata, "Artinya ia tidaklah disebut-sebut, tidak menginginkan ketinggian. Jika diberi tugas untuk berjalan, ia berjalan, seakan Rasulullah berkata, "Jika berjaga malam (hirasah) terus-menerus berjaga dan jaga bertugas di barisan belakang senantiasa disana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu hajar berkata, "pada hadits itu terdapat anjuran untuk membuang kecintaan kepada riyasah (ambisi kepemimpinan) dan popularitas, serta keutamaan ketidakterkenalan dan tawadhu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe dai seperti itulah yang membuat suksesnya dakwah. Adapun para pemuja ambisi kepemimpinan, jabatan dan ketenaran, merekalah yang bakal menjadi batu-batu sandungan terhadap suksesnya Harakah Islamiyah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-115116572206030455?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/115116572206030455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=115116572206030455' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115116572206030455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115116572206030455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/tidak-ada-pangkat-dalam-dakwah.html' title='TIDAK ADA PANGKAT DALAM DAKWAH'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-115016802103540394</id><published>2006-06-12T20:05:00.000-07:00</published><updated>2006-06-12T20:07:01.133-07:00</updated><title type='text'>KIAT MENCAPAI KEKHUSYUKAN SHALAT</title><content type='html'>Sesungguhnya, shalat itu merupakan pilar amaliah terbesar dalam agama ini. Sedang sikap khusyu' di dalamnya merupakan tuntunan syar'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika musuh Allah (Iblis) telah menetapkan janji pada dirinya untuk menyesatkan dan memfitnah keturunan Adam 'alaihi wassalam dengan mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka...." (QS Al-A'raf : 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara makarnya yang paling besar adalah memalingkan manusia dari kekhusyu'an shalat melalui berbagai cara dan sarana. Juga usahanya melakukan was-was serta bisikan dalam diri mereka agar terjauhkan dari menikmati lezatnya ibadah shalat dan agar mereka kehilangan pahala dan balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika banyak manusia menyerah dan bertekuk lutut di depan setan (dalam masalah ini), dan ketika kekhusyu'an adalah hal pertama yang akan diangkat dari bumi ini, sementara kita hidup di akhir zaman, maka sesuailah keadaan kita dengan gambaran Hudzaifah radiallahu 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama kali akan hilang dari agamamu adalah " khusyu' " dan hal terakhir yang akan hilang dari agamamu adalah shalat. Betapa banyak orang shalat tetapi tiada kebaikan padanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja engkau memasuki masjid sementara tidak mendapatkan di antara mereka orang yang khusyu' ". (Madarijus Saalikin karya Ibnu Qayyim 1/521).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan apa yang dirasa seeseorang pada dirinya, juga apa yang didengar dari banyak orang yang mengeluh dan mengadu di sekitarnya tentang problem was-was serta hilang khusyu' di dalamnya, hal itu menunjukkan betapa sangat dibutuhkan pembahasan tentang topik shalat khusyu' ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut merupakan bentuk peringatan bagi diri saya sendiri juga bagi seluruh saudara-saudara kaum muslimin. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semoga Dia memberikan manfaat dengannya. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minuun : 1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya mereka yang takut dan tenang. Pengertian khusyu' adalah : Ketenangan, tuma'ninah ,pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu' serta merasa takut dan selalu merasa diawasi Allah Ta'ala (Tafsir Ibnu Katsir, cet. Darus Syi'b VI/414).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi lain dari khusyu' adalah menghadapnya hati di hadapan Allah Ta'ala dengan sikap tunduk dan rendah diri (merasa hina). (Madarijus Salikin I/520).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia mengomentari firman Allah Ta'ala : ".... Berdirilah karena Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu' ", Beliau berkata : di antara hal yang termasuk khusyu' adalah : sikap diam, khidmat, tunduk, menundukkan pandangan serta merendahkan diri karena takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. (Ta'dziimu Qadris Shalat 1/188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat khusyu' adalah hati, sedangkan buahnya akan tampak pada anggota badan. Anggota-anggota badan hanya mengikuti hati. Jika kekhusyu'an rusak akibat kelalaian, kelengahan, serta was-was, maka rusaklah ubudiyah anggota badan yang lain.sebab hati diibaratkan raja. Sedangkan anggota badan lainnya sebagai pasukan dan tentaranya. Kepadanya mereka taat dan darinyalah sumber segala perintah. Jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sikap menampak-nampakkan kekhusyu'an, hal itu tercela. Sebab di antara tanda-tanda keikhlasan adalah : "menyembunyikan kekhusyu'an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Hudzaifah radiallahu 'anhu berkata : "Jauhilah oleh kalian kekhusyu'an munafik". Dikatakan kepadanya : "Apa yang dimaksud dengan kekhusyu'an munafik?". Beliau berkata : "Engkau melihat jasadnya khusyu' sementara hatinya tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Fudhail bin 'Iyadh juga berkata: "Adalah hal yang tidak disukai jika seseorang memperlihatkan kekhusyu'an melebihi apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ulama melihat seseorang yang khusyu' , kedua bahu dan badannya. Maka ia berkata kepadanya: "Hai fulan, khusyu' itu tempatnya di sini, ia menunjuk ke arah dadanya dan bukannya di sini (sambil menunjuk pada kedua bahunya). (Madarijus Salikin 1/521).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim -ketika menjelaskan perbedaan anatra khusyu' iman dengan khusyu' nifaq berkata : "Khusyu' iman adalah: "khusyu'nya hati kepada Allah dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu. Hatinya terbuka untuk Allah dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta. Menyaksikan nikmat-nikmat Allah dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan begitu secara otomatis hati menjadi khusyu' yang kemudian khusyu'nya anggota badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun khusyu' nifaq adalah : ia tampak pada permukaan badan dalam sifatnya yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidak khusyu'. Sebagian sahabat ada yang berkata: "Saya berlindung kepada Allah dari khusyu' nifaq. Dikatakan kepadanya apa, "Apakah khusyu' nifaq?" Ia menjelaskan "Jika badan kelihatan khusyu' sementara hatinya tidak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut hamba yang khusyu' kepada Allah adalah : seorang hamba yang api syahwatnya padam dan asap syahwatnya dalam hatinya tenang. Dengan begitu, dadanya menjadi terang dan di dalamnya terpancar cahaya agung. Maka kemudian matilah syahwat jiwanya, karena rasa takut dan adanya ketenangan yang memenuhi hatinya. Dengan begitu padamlah seluruh anggota badannya, hatinya tenang dan tuma'ninah kepada Allah . Ia berdzikir kepada-Nya dengan perasaan tenteram yang diberikan Rabb kepadaNya, dengan begitu, ia tunduk dan berserah diri kepada Allah . Sedangkan orang yang tunduk adalah orang yang tenang. Sebab yang disebut dengan tanah yang tenang adalah tanah yang tidak bergerak dan karenanya air bisa menggenang. Begitu pula hati yang tunduk, ia merasakan ketenangan dan kekhusyu'an, seperti belahan bumi yang tenang yang di atasnya air bisa mengalir kemudian menggenang di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tanda-tandanya adalah, jika ia ia bersujud di hadapan Rabbnya diiringi sikap pengagungan, perasaan hina serta keterbukaan hati di hadapanNya. Ia begitu khusyu' dalam sujudnya hingga tidak akan mengangkat kepalanya selagi belum berjumpa denganNya, begitulah gambaran khusyu' iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sikap pura-pura dan khusyu' nifaq adalah kondisi di mana seseorang merekayasa untuk menenangkan anggota badannya atau berpura-pura dan agar dilihat orang lain. Sementara batinnya terpenuhi syahwat - syahwat dan kemauan - kemauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berpura-pura dalam lahirnya, sementara ular-ular lembah dan singa-singa hutan berkeliaran di sekitarnya siap menghabisi mangsanya." (Kitab Ar Ruh hal 314 Cet. Darul Fikr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyu' dalam shalat bisa dicapai oleh siapapun yang mampu mengosongkan hatinya hanya untukNya, disibukkan hanya denganNya dan lebih mengutamakan Allah dari selainNya. Saat itulah shalat menjadi ruang peristirahatan sekaligus penyejuk matanya. Sebagaimana disabdakan dalam shalat." (Tafsir Ibnu Katsir , V/456. Haditsnya tersebut dalam Musnad Imam Ahmad III/128 dan Shahihul Jami' no : 3123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menyebutkan laki-laki serta perempuan yang khusyu' sebagai hamba-hamba pilihan, dan Dia juga mengabarkan akan menyediakan ampunan serta pahala besar bagi mereka (Lihat surat Ah-Ahzab ayat 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara faidah khusyu' adalah ia mampu memperingan perkara shalat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.( QS. Al-Baqarah : 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyu' merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang adanya, khususnya di akhir zaman yang kita hidup di dalamnya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuatu yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah kekhusyu'an sehingga engkau tidak melihat di antara mereka orang yang khusyu' . " (Imam Al-Hatsami berkata dalam kitab Al-Majma' II/137,' Hadits ini diriwayatkan Imam Ath Thabrani dalam Mu'jam Al-Kabir, sanadnya hasan tersebut pula dalam Shahih At-Targhib 543. (Disebutkan derajatnya shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian salaf berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shalat laksana sahaya perempuan yang dihadiahkan kepada Sang Raja. Apa komentar engkau jika Sang Raja dihadiahi sahaya perempuan yang lumpuh, bermata juling atau bahkan buta, atau kedua kaki dan tangannya putus, atau sakit atau sangat buruk rupanya atau bahkan ia dihadiahi sahaya perempuan yang sudah tidak bernyawa, lantas bagaimana dengan shalat yang dihadiahkan dan dipersembahkan kepada Allah ? Allah Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan tidak termasuk hal yang baik, shalat yang tidak ada ruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tidak disebut sebagai upaya pembebasan budak dengan baik jika dibebaskan itu budak yang sudah tidak bernyawa (Al-Madarij: 1/526).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Khusyu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang kuat khusyu' dalam shalat hukumnya wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : berkenaan dengan firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al-Baqarah :45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkomentar hal ini mengandung celaan atas orang-orang yang yang tidak khusyu' dalam shalat, sementara celaan tidak terjadi kecuali atas ditinggalkannya perkara yang wajib atau karena keharaman yang dilakukan. Jika orang-orang yang tidak khusyu' dalam shalat mendapatkan celaan, hal itu menunjukkan wajibnya khusyu'. Dan yang lain menguatkan kewajiban khusyu' dalam shalat adalah firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya." (Al-Mukminun : 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi , (yakni) yang akan mewarisi jannah Firdaus. Mereka kekal di dalamnya".&lt;br /&gt;(Al-Mukminun : 10-11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ayat-ayat mulia tersebut Allah Ta'ala mengabarkan bahwa mereka adalah calon pewaris jannah Firdaus. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa selain mereka tidak layak mewarisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika khusyu' dalam shalat merupakan kewajiban, yaitu yang mencakup ketenangan dan ketundukan, maka barangsiapa yang sujud sebagaimana mematuknya burung gagak, berarti ia tidak khusyu' dalam sujudnya. Begitu pula siapa yang mengangkat kepalanya di dalam ruku' dan ia bersikap tidak tenang sebelum seluruh anggota badannya tenang, berarti ia dianggap tidak tenang. Sebab hakikat ketenangan adalah tuma'ninah. Barangsiapa tidak tuma'ninah ia belum dikatakan tenang. Dan barangsiapa tidak tuma'ninah ia belum dikatakan tenang. Dan barangsiapa tidak tenang, ia belum dikatakan khusyu' dalam ruku dan sujudnya. Dan barangsiapa yang tidak khusyu' ia berdosa dan bermaksiat. Bukti lain yang menunjukkan kewajiban khusyu' dalam shalat adalah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam mengancam mereka yang meninggalkannya, misalnya orang yang mengarahkan pandangannya ke langit, maka gerakan dan pandangannya ke arah langit tersebut berlawanan dengan ihwal orang yang khusyu' . (Majmu' Fataawa 22/553-558).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal keutamaan khusyu' serta ancaman bagi yang meninggalkannya , Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terdapat lima shalat yang difardhukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalatnya, menunaikan tepat pada waktunya, menyempurnakan seluruh ruku'nya berikut kekhusyu'an di dalamnya, maka baginya ada janji Allah untuk mengampuninya. Barangsiapa tidak melakukannya sebagaimana tersebut, ia tidak mendapat janji Allah tersebut.Jika Allah berkehendak, akan mengampuninya dan jika Dia berkehendak, akan menyiksanya".&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud no. 425 tersebut dalam Shahihul Jami' no. 3242).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal keutaman khusyu' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa berwudlu kemudian membaguskannya, lalu shalat 2 rakaat dengan menghadapkan sepenuh wajah dan hati (dalam versi lain) di dalamnya ia tidak membisiki jiwanya, maka dosa-dosanya yang lampau diampuni. (dalam riwayat lain) wajib baginya surga.&lt;br /&gt;(HR Al-Bukhari no. 258 Al-Mughni dan An-Nasa'i I/95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita membahas lebih lanjut tentang sebab-sebab khusyu' dalam shalat, maka hal tersebut dibagi menjadi dua bagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;Mendatangkan hal-hal yang dapat menghadirkan rasa khusyu' dan menguatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;Menolak apa-apa yang menghilangkan sikap khusyu' dan melemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan hal-hal yang membantu terwujudnya khusyu'. Beliau mengatakan bahwa hal yang membantu terwujudnya khusyu' ada dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : kuatnya hal-hal yang mendorongnya.&lt;br /&gt;Kedua : lemahnya hal-hal yang mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang pertama Quwwatul Muqtadhi adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;usaha keras hamba untuk memikirkan apa yang ia ucapkan dan lakukan, menghayati dan merenungi bacaan, dzikir dan do'anya, serta menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang bermunajat di hadapan Allah dan Dia melihatnya, sebab seorang yang sedang shalat dengan berdiri berarti ia sedang bermunajat kepada Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang pengertian ihsan adalah : Engkau menyembah Allah dengan perasaan seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian manakala seorang hamba mampu merasakan kenikmatan shalat, maka perasaan keterkaitannya dengan shalat tersebut semakin kuat. Hal ini tentu berpulang pada tingkatan keimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang menguatkan iman sangat banyak. Oleh karena itulah Nabi bersabda : "Di antara perkara dunia yang saya senangi adalah : Wanita dan wangi-wangian, dan kesejukan pandanganku terdapat dalam shalat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hiburlah diri kita dengan shalat" dan beliau tidak bersabda : "Istirahatkanlah diri kami dengan shalat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang kedua Zawalul 'Aridh : menghilangkan rintangan, adalah upaya seorang hamba untuk menolak apa yang mengganggu hatinya, semisal berfikir tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, serta upaya menghilangkan fikiran-fikiran yang menyeret hati dari tujuan utama shalatnya. Dalam hal ini setiap hamba tentu berbeda-beda kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya was-was dalam shalat tentu karena banyaknya syubhat dan syahwat. Seorang hamba seharusnya juga berupaya mengaitkan hati dengan hal-hal yang disukai, sehingga hati condong untuk mencarinya, serta dengan hal-hal yang tidak disukai hati, sehingga ia condong untuk menghindarinya (Majmu' Fataawa XX/606-607).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini maka berikut ini kami paparkan beberapa sebab yang mendatangkan kekhusyu'an dalam shalat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan kekhusyu'an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.Bersiap diri sepenuhnya untuk shalat&lt;br /&gt;34.Tuma'ninah&lt;br /&gt;35.Mengingat mati di saat shalatmu&lt;br /&gt;36.menghayati makna bacaan shalat&lt;br /&gt;37.membaca al-Qur'an sambil berhenti pada setiap ayat&lt;br /&gt;38.membaca al-Qur'an dengan tartil serta membaguskan bacaan&lt;br /&gt;39.meyakini bahwa alloh akan mengabulkan permintaannya saat hamba sedang shalat&lt;br /&gt;40.meletakkan sutrah ( tabir pembatas ) mendekatkan diri ke arahnya&lt;br /&gt;41.meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada&lt;br /&gt;42.melihat ke arah tempat sujud&lt;br /&gt;43.menggerak-gerakan jari telunjuk&lt;br /&gt;44.membaca surat-surat al-Qur'an atau do'a-do'a secara berganti-ganti&lt;br /&gt;45.membaca ayat-ayat Sajdah&lt;br /&gt;46.memohon perlindungan kepada Allah  dari godaan syetan&lt;br /&gt;47.membayangkan kekhusyu'an salafush shalih saat mereka shalat&lt;br /&gt;48.mengetahui keistimewaan-keistimewaan khusyu' dalam shalat&lt;br /&gt;49.bersungguh-sungguh dalam berdo'a (Pada saat disyari'atkannya berdo'a) pada waktu shalat, khususnya pada waktu sujud&lt;br /&gt;50.berdzikir setelah shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupaya Menepis Penghalang kekhusyu'an shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat&lt;br /&gt;52.menghindari shalat dengan pakaian bergambar/bertulisan dan sejenisnya&lt;br /&gt;53.menghindari shalat dekat makanan yang disukai&lt;br /&gt;54.menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air kecil maupun besar&lt;br /&gt;55.menghindari shalat dalam kondisi mengantuk&lt;br /&gt;56.jangan shalat di belakang orang yang sedang bercakap-cakap ataupun tidur&lt;br /&gt;57.tidak menyibukkan diri dengan membersihkan debu&lt;br /&gt;58.tidak boleh mengganggu orang shalat dengan mengeraskan bacaan al-Qur'an&lt;br /&gt;59.tidak menoleh ke kiri atau ke kanan ketika sedang shalat&lt;br /&gt;60.tidak mengarahkan pandangan ke langit&lt;br /&gt;61.jangan meludah ke depan ketika sedang shalat&lt;br /&gt;62.berusaha sebisa mungkin untuk tidak menguap karena kantuk&lt;br /&gt;63.tidak bertolak pinggang ketika shalat&lt;br /&gt;64.tidak menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah&lt;br /&gt;65.tidak mencontoh gerakan atau tingkah laku binatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan dari 33 Kiat Mencapai Kekhusyu'an dalam shalat&lt;br /&gt;Butir Tiap Kiat Tidak Ana Salinkan&lt;br /&gt;Penyusun : Syaikh Muhammad bin Shalih al Munajjid&lt;br /&gt;Penerjemah : Abu Naufal&lt;br /&gt;Penerbit :At-Tibyan - Solo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-115016802103540394?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/115016802103540394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=115016802103540394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016802103540394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016802103540394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/kiat-mencapai-kekhusyukan-shalat.html' title='KIAT MENCAPAI KEKHUSYUKAN SHALAT'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-115016760892889254</id><published>2006-06-12T19:59:00.000-07:00</published><updated>2006-06-12T20:00:09.103-07:00</updated><title type='text'>KHUSYU' DALAM SHALAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;December 14, 2002&lt;br /&gt;Publikasi : Alislam.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Lughah (Etimologi), khusyu’ berarti rendah diri atau mendekati rendah diri. Menurut pengertian ini, khusyu’ itu terdapat pada suara, penglihatan, ketenangan dan kerendahdirian. Sedangkan pengertian khusyu’ menurut syara’ (terminologi) adalah rendah diri. Rendah diri ini kadang-kadang berada dalam hati dan kadang-kadang berasal dari anggota tubuh seperti diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu’ itu pekerjaan hati adalah hadis Ali ra, “Khusyu’ itu berada dalam hati” (HR. al-Hakim), hadis: “Sekiranya sanubari hati orang ini khusyu, niscaya anggota tubuhnya menjadi khusyu”, dan hadis do’a mohon perlindungan: “….dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sanubari hati yang tidak khusyu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah khusyu’ dalam salat itu wajib?&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Ghozali khusyu’ itu wajib. Beliau menguraikan argumentasinya secara panjang lebar -untuk menguatkan pendapatnya- dalam kitab ‘Ihyaa’ Ulumuddin’. Akan tetapi, menurut Jumhur Ulama’, khusyu’ itu tidak wajib. Bahkan, Imam an-Nawawi mengklaim adanya Ijma’ yang tidak mewajibkan khusyu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Salatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw melarang seseorang meletakkan tangannya pada lambungnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksi (lafal) hadis berasal dari Imam Muslim (wallafdzu li Muslimin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari larangan hadis tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meletakkan tangan, baik yang kiri maupun yang kanan, pada lambungnya ketika dia sedang melakukan salat, sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apa hikmah dari larangan itu? Maka dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskannya dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Bahwa hal itu adalah pekerjaan orang Yahudi dalam salat mereka” (HR. al-Bukhari). Sebab, umat Islam itu dilarang keras untuk menyerupai orang-orang Yahudi dalam semua gerak-gerik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda salat Maghrib” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama’ menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas salat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam salatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ada beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang ta’lil (sebab-musabab) dilarangnya mendahulukan salat ketika makanan sudah dihidangkan. Di antaranya adalah atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, “Bahwa keduanya pernah sedang makan, sementara didapur api (kompor)nya masih terdapat daging yang sedang dibakar, lalu sahabat yang melakukan adzan tersebut ingin melakukan iqamah untuk salat, tiba-tiba Ibnu Abbas berkata kepadanya: ‘Jangan terburu-buru’, kita tidak melakukan salat selama dalam hati kita masih ingat sesuatu (makanan).” Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Supaya (makanan itu) tidak memalingkan perhatian kita dalam salat.” Disebutkan pula dari Hasan bin Ali as bahwa dia berkata, “Makan malam sebelum salat itu bisa menghilangkan (meredam) jiwa yang suka mencela (an-Nafs al-Lawwaamah).” (HR. Ibnu Abu Syaibah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktu salat tinggal sedikit, apakah disunnahkan pula mendahulukan makan atas salat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesunnahan seperti itu dilakukan apabila waktu salat masing panjang. Namun, jika waktu salat tinggal sedikit, maka menurut Jumhur Ulama’, dia mendahulukan salat atas makan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga waktu salat agar tidak lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan Hadis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadis no. 2 di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Hadirnya makanan seperti itu bisa menjadi uzur untuk meninggalkan salat jama’ah. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila hidangan makan malamnya telah disiapkan dan dia mendengar bacaan Imam dalam salat, maka dia tidak berdiri (untuk melakukan salat) sampai dia selesai makan.&lt;br /&gt;b. Hal-hal selain makanan bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan makanan selama mempunyai ilat (sebab) yang sama yaitu apabila dia mengakhirkan melakukan sesuatu itu, hatinya menjadi terganggu ketika salat. Maka, sebaiknya melakukan sesuatu itu sebelum salat.&lt;br /&gt;Dan di sini yang perlu diperhatikan betul adalah bahwa sesuatu itu telah diperbolehkan secara tegas bahkan dianjurkan oleh Syara’ (Allah dan Rasul-Nya). Akan tetapi, apabila sesuatu itu tidak dianjurkan oleh Syara’, maka mendahulukan salat lebih baik daripada melakukan atau melanjutkan sesuatu itu. Contohnya adalah menonton sinetron, berbincang-bincang dengan kawan atau kerabatnya. Karena itu, mendahulukan salat lebih baik daripada menonton sinetron atau mengobrol lebih dahulu dengan kawan atau kerabatnya, baik waktu salat tinggal sedikit atau masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dari Aisyah ra berkata, “saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam salat?” Kemudian Rasul saw menjawab: “Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam salat seorang hamba” (HR. al-Bukhari)&lt;br /&gt;Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: “Janganlah anda menoleh dalam salat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam salat sunnah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang sedang melakukan salat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, syetan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam salatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jumhur Ulama’, menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusyu’ salat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan salat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, “Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam salatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun ‘pergi’ .” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-115016760892889254?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/115016760892889254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=115016760892889254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016760892889254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016760892889254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/khusyu-dalam-shalat_115016760892889254.html' title='KHUSYU&apos; DALAM SHALAT'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-115016678901373246</id><published>2006-06-12T19:43:00.000-07:00</published><updated>2006-06-12T19:46:29.123-07:00</updated><title type='text'>INGIN KHUSYUK? HINDARI YANG HARAM!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;Republika, Jumat, 10 Maret 2006&lt;br /&gt;KH Anwar Sanusi:&lt;br /&gt;Ingin Khusyuk? Hindari yang Haram!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, ''Shalluu kamaa ra-aytummuni ushalli (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melakukan shalat).'' Sayang, pengertian dari hadis tersebut baru sebatas wilayah fikih saja. Karena berbagai alasan, shalat acapkali hanya sekadar pelepas kewajiban belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Padahal shalatnya nabi itu adalah shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan dalam hidup, shalat untuk menciptakan ukhkhuwwah, shalat untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah, red),'' kata Pimpinan Pondok Pesantren Modern Lembah Arafah Cisarua, Bogor, KH Anwar Sanusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, kiai yang aktif memberi ceramah agama di layar televisi ini mengingatkan pentingnya pemahaman shalat untuk mencapai kekhusyukan. Berikut ini petikannya:&lt;br /&gt;Menurut definisi Anda, apa yang dimaksud dengan shalat khusyuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyuk artinya tertuju, tidak terpecah-pecah. Kalau khusyuk dalam shalat artinya tujuan hidup kita setelah shalat itu hanyalah untuk Allah. Itu sebabnya waktu shalat apa yang kita praktekkan nanti dibaca dalam shalat. Dan Allah menyaksikan. Shalat itu kan apel rutin kita kepada Allah. Konsekuensi kita kepada Islam adalah taslim (penyerahan, red), ya pada waktu shalat itu. Makanya kalau setelah shalat tidak mengamalkan apa yang kita baca berarti shalat apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusyuk dan tidaknya shalat, berada pada wilayah sufi. Bahwa shalat itu ada para wilayah fikih, iya, tapi dia juga masuk dalam wilayah tasawuf. Kalau yang fikihnya saja benar, tapi yang sebelahnya tidak benar, maka shalatnya benar tapi tidak khusyuk. Kalau tasawufnya benar, tapi secara fikih tidak benar, maka shalatnya khusyuk tapi tidak benar. Jadi kedua-duanya harus benar, kedua-duanya harus terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa khusyuk menjadi sangat penting dalam pelaksanaan rukun Islam kedua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi seseorang bisa dilihat dari shalat. Nabi Muhammad SAW berkata, banyak orang shalat sebenarnya dia tidak shalat. Arti hadisnya, ''Akan datang satu zaman pada umatku seorang muadzdzin yang mengumandangkan adzan dari dalam masjid mereka datang ke masjid buat shalat berjamaah, takbirnya, iftitah-nya, Fatihah-nya, rukunya, sujudnya, dan shalatnya sama, tapi di hadapan Allah umatku yang shalat ke masjid itu tidak satu pun sebagai hamba yang disebut pantas beriman kepadaku.'' Kenapa demikian? Memang selama ini kita melihat orang yang shalat itu adalah orang yang beriman. Jawabannya ada pada Alquran Surat Al Mukminun dari ayat 1 dan 2: ''Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.'' Aplikasinya, selesai shalat diamalkan apa yang dibaca dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya mau tanya: berapa banyak umat Islam yang shalat, waktu shalat takbirnya keras tapi selesai shalat takaburnya juga keras? Berapa banyak umat Islam yang shalat berjamaah di masjid shaf-nya rata tapi sesudah keluar masjid kemudian bercerai berai bahkan saling fitnah? Artinya, dia belum shalat kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, orang-orang yang tidak senang berkata sia-sia. Berapa banyak para pejabat sekarang yang shalatnya rajin tapi maksiat jalan terus. Ketiga, orang yang selalu menjaga tubuhnya agar selalu bersih dengan menunaikan zakat. Tapi, berapa banyak umat Islam sekarang waktu shalat dia sebagai Muslim tapi ketika menjadi pegawai, dia menjadi Yahudi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, orang-orang yang pandai menjaga kehormatannya. Dalam ajaran Islam orang shalat tapi berzina, dia tidak punya iman. Jadi, tidak mungkin orang beriman, lalu shalat, kemudian melakukan zina. Nah, sekarang orang rata-rata shalat maupun shalat di Kabah mau membersihkan diri kemudian di Indonesia membuat dosa lagi. Buat membersihkan diri dia pergi umrah. Di Masjidil Haram, di depan Kabah menangis tersedu-sedu, begitu keluar Kabah balik ke kondisi semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, shalluu kamaa ra aytumuuni ushalli (shalatlah seperti kalian melihat aku melakukan shalat). Selama ini kita memperhatikan "jurus" fikihnya saja, 'shalat seperti aku shalat'. Padahal shalatnya nabi itu shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan, shalat untuk menciptakan ukuwah, shalat untuk takarrub ilallah. Masalah-masalah ini yang tidak pernah dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi fikihnya yang lebih diperhatikan ya?&lt;br /&gt;Ya. Karena apa? Karena memang unsur pelajaran fikih sangat dominan pada saat belajar di waktu muda dulu. Jadi, agama itu kita anggap fikih. Padahal fikih itu ilmu sosial. Dalam hadis di atas, artinya segala aspek yang dilakukan itu mendatangkan kekhusyukan. Kita lihat para sahabat yang shalat di belakang Rasulullah. Andaikata mereka tertebas oleh pedang mereka tidak akan terasa karena sedang shalat. Ali bin Abi Thalib pernah terpanah tangannya oleh orang kafir. Ali meraung-raung karena panah orang kafir itu memang sakit. Kata Umar bin Khaththab supaya tidak sakit panahnya kita cabut waktu Ali sedang shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya agar shalat kita menjadi khusyuk?&lt;br /&gt;Di atas segalanya, untuk mendapatkan shalat yang khusyuk, pertama darah dan daging kita tidak boleh terkontaminasi barang haram. Kalau sudah bicara masalah makanan haram, daging yang kita makan haram, minuman yang kita minum haram, lalu shalat menghadap kepada Allah, bagaimana bisa sesuatu yang haram menghadap kepada zat yang Mahasuci? Itu yang menyebabkan shalat kita selama ini tidak pernah khusyuk. Kenapa para ulama yang rezekinya sederhana shalatnya khusyuk? Kenapa para pejabat yang banyak hartanya tidak khusyuk dalam shalat? Mari kita muhasabah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-115016678901373246?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/115016678901373246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=115016678901373246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016678901373246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/115016678901373246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/ingin-khusyuk-hindari-yang-haram.html' title='INGIN KHUSYUK? HINDARI YANG HARAM!'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-114965633872143414</id><published>2006-06-06T21:58:00.000-07:00</published><updated>2006-06-12T19:49:06.740-07:00</updated><title type='text'>MERINDUKAN SHALAT</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Republika, Jum'at 5 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Khathab berkeliling kota membangunkan kaum Muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, dia sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada shubuh itu tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ikhram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darahpun menyembur. Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini tidak bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ia ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikannya sebagai imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar bin Khathab. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah. Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!" Lalu yang hadir serentak berkata, "Shalat wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini diambil dari buku Menjemput Maut: Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT karya Dr Quraish Shihab (Lentera Hati, 2002). Ada teladan menarik yang diperlihatkan Umar bin Khathab dalam kisah ini, yaitu kecintaan dan perhatian beliau terhadap shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, tiada yang terindah dalam hidup selain menghadap Allah SWT. Dunia begitu kecil di hadapannya. Kenikmatan berkomunikasi dengan Dzat yang Maha Mencinta, mampu mengalahkan sakitnya tusukan pisau yang tajam. Tak heran bila demi sekali shalat (di masjid dan berjamaah), Umar pun rela menukarnya dengan harta yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah berkait dengan hal ini. Suatu hari Umar mengunjungi kebunnya. Ia begitu menikmati kicauan burung yang beterbangan di antara pepohonan. Saking asiknya, ia harus ketinggalan rakaat pertama saat berjamaah di masjid. Umar begitu menyesal, hingga ia menghibahkan kebun yang telah melalaikannya tersebut pada baitul mal milik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah Allah dalam shalat&lt;br /&gt;Shalat adalah keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Demikian istimewanya, hingga proses turunnya perintah shalat diawali dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Allah SWT langsung "mengundang" Rasulullah SAW ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai strategis dan keistimewaan shalat sudah tidak terbantahkan lagi. Shalat adalah amalan pertama yang diwajibkan atas Rasulullah SAW. Shalat adalah tiang yang menyangga bangunan Islam. Shalat adalah pembeda atau pemisah antara seorang Muslim dan kafir. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Shalat adalah kunci kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Shalat adalah penggugur dosa-dosa. Shalat adalah kunci kesuksesan seorang hamba. Shalat adalah sarana pengundang datangnya pertolongan Allah. Shalat pun menjadi saat istimewa bagi seorang hamba, karena ia bisa berhadapan langsung dengan Rabb-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ilmiah pun menunjukkan bahwa shalat memiliki segudang manfaat dari sudut kesehatan. Termasuk kemampuannya untuk mengurangi stres dan kecemasan, juga menangkal datangnya penyakit-penyakit fisik, selain tentunya menangkal penyakit rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seorang hamba menunaikan shalat, dan shalatnya dilakukan dengan khusyuk dan tuma'ninah, ia pun berpeluang mendapatkan pengalaman rohani tertinggi (peak experience) dan bangkitnya kesadaran yang lebih tinggi (altered states of conciousness). Tidak berlebihan bila shalat dikatakan sebagai mi'raj-nya orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku; maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingatku." (QS Thaha [20]: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan ini, seharusnya kita memaknai shalat bukan sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Layaknya kita membutuhkan air, udara, atau makanan, seperti itulah shalat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tepat waktu adalah keutamaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tanda bahwa seseorang telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan adalah keistikamahannya dalam memburu shalat secara ontime. Keutamaannya akan berlipat apabila dilakukan di masjid dan berjamaah. Keutamaan ini akan berlipat lagi tatkala kita mempersiapkan diri sebelum melaksanakannya dengan menunggu sebelum adzan berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menunggu shalat menjadi sebuah keutamaan? Ada empat alasan. Pertama, menunggu shalat adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai analogi, seseorang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa merindukan perjumpaan dengan yang dicintainya. Tatkala ada janji bertemu, ia akan berusaha untuk tidak terlambat. Begitu pula saat kita merindukan Allah, kita akan selalu menunggu berjumpa dengan-Nya dan akan selalu menunggu perjumpaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menunggu waktu shalat akan membuka kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak kebaikan lainnya, seperti membaca Alquran, i'tikaf, berdzikir, membereskan tempat shalat, dan lainnya. Satu kebaikan biasanya akan mengundang kebaikan lainnya. Ketiga, saat menunggu shalat kemungkinan bermaksiat menjadi sangat kecil. Keempat, saat menunggu shalat kita akan berusaha menjaga kebersihan diri dan hati. Bukankah salah satu syarat sahnya shalat adalah bersih badan dan tempat shalat dari najis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Rasulullah SAW menjanjikan bahwa seseorang dikategorikan sedang shalat, tatkala ia meniatkan diri menunggu datangnya waktu shalat. Bahkan, saat itu para malaikat terus melantunkan doa agar kita dirahmati Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya salah seorang di antara kalian (terhitung) di dalam shalat selama tertahan oleh shalat sedang para malaikat mendoakan mereka: 'Ya Allah, ampunilah dia; ya Allah rahmati dia, selama dia tidak berdiri dari tempat shalatnya atau ber-hadats (batal wudhunya)." (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini akan lebih aplikatif dan bernilai sosial andai tengat waktu menunggu tersebut makna dan cakupannya diperluas. Pemaknaannya tidak sekadar menunggu shalat di masjid, tapi menempatkan semua aktivitas hidup dalam skup menunggu datangnya waktu shalat. Hidup kita, hakikatnya, adalah perpindahan dari satu shalat ke shalat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya bila kita mampu mengubah paradigma berpikir bahwa kerja kita, sekolah kita, tidur kita, rekreasi kita; pendeknya semua aktivitas hidup kita, adalah "aktivitas sampingan" dari shalat. Bila paradigma berpikir ini digunakan, maka tak akan sekali pun kita melalaikan kumandang adzan, karena itulah kerja utama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting, semua aktivitas kita di luar ritual shalat, insya Allah akan makin berkualitas karena dilandasi nilai dzikir, nilai amal ma'ruf nahyi munkar, dan keinginan menjaga kebersihan diri. Boleh jadi, semua aktivitas kita akan bernilai shalat, karena kita meniatkannya sebagai aktivitas menanti perjumpaan dengan Allah SWT. Dan itulah yang telah dilakukan Rasulullah SAW, Khalifah Umar bin Khathab, dan para sahabat lainnya. Wallahu a'lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-114965633872143414?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/114965633872143414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=114965633872143414' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965633872143414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965633872143414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/merindukan-shalat_06.html' title='MERINDUKAN SHALAT'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-114965617406303992</id><published>2006-06-06T21:52:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T21:56:14.220-07:00</updated><title type='text'>MERINDUKAN SHALAT</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;p&gt;Republika, Jum'at 5 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Khathab berkeliling kota membangunkan kaum Muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, dia sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada shubuh itu tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan &lt;i&gt;takbiratul ikhram&lt;/i&gt;, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darahpun menyembur. Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini tidak bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ia ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikannya sebagai imam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar bin Khathab. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah. Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!" Lalu yang hadir serentak berkata, "Shalat wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Maka beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kisah ini diambil dari buku &lt;i&gt;Menjemput Maut: Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT&lt;/i&gt; karya Dr Quraish Shihab (Lentera Hati, 2002). Ada teladan menarik yang diperlihatkan Umar bin Khathab dalam kisah ini, yaitu kecintaan dan perhatian beliau terhadap shalat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baginya, tiada yang terindah dalam hidup selain menghadap Allah SWT. Dunia begitu kecil di hadapannya. Kenikmatan berkomunikasi dengan Dzat yang Maha Mencinta, mampu mengalahkan sakitnya tusukan pisau yang tajam. Tak heran bila demi sekali shalat (di masjid dan berjamaah), Umar pun rela menukarnya dengan harta yang ia miliki. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada sebuah kisah berkait dengan hal ini. Suatu hari Umar mengunjungi kebunnya. Ia begitu menikmati kicauan burung yang beterbangan di antara pepohonan. Saking asiknya, ia harus ketinggalan rakaat pertama saat berjamaah di masjid. Umar begitu menyesal, hingga ia menghibahkan kebun yang telah melalaikannya tersebut pada &lt;i&gt;baitul mal&lt;/i&gt; milik negara. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Anugerah Allah dalam shalat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Shalat adalah keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Demikian istimewanya, hingga proses turunnya perintah shalat diawali dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Allah SWT langsung "mengundang" Rasulullah SAW ke langit. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nilai strategis dan keistimewaan shalat sudah tidak terbantahkan lagi. Shalat adalah amalan pertama yang diwajibkan atas Rasulullah SAW. Shalat adalah tiang yang menyangga bangunan Islam. Shalat adalah pembeda atau pemisah antara seorang Muslim dan kafir. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Shalat adalah kunci kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Shalat adalah penggugur dosa-dosa. Shalat adalah kunci kesuksesan seorang hamba. Shalat adalah sarana pengundang datangnya pertolongan Allah. Shalat pun menjadi saat istimewa bagi seorang hamba, karena ia bisa berhadapan langsung dengan Rabb-nya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penelitian ilmiah pun menunjukkan bahwa shalat memiliki segudang manfaat dari sudut kesehatan. Termasuk kemampuannya untuk mengurangi stres dan kecemasan, juga menangkal datangnya penyakit-penyakit fisik, selain tentunya menangkal penyakit rohani. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat seorang hamba menunaikan shalat, dan shalatnya dilakukan dengan khusyuk dan &lt;i&gt;tuma'ninah&lt;/i&gt;, ia pun berpeluang mendapatkan pengalaman rohani tertinggi (&lt;i&gt;peak experience&lt;/i&gt;) dan bangkitnya kesadaran yang lebih tinggi (&lt;i&gt;altered states of conciousness&lt;/i&gt;). Tidak berlebihan bila shalat dikatakan sebagai &lt;i&gt;mi'raj&lt;/i&gt;-nya orang beriman. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku; maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingatku." (QS Thaha [20]: 14) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat kenyataan ini, seharusnya kita memaknai shalat bukan sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Layaknya kita membutuhkan air, udara, atau makanan, seperti itulah shalat dibutuhkan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Shalat tepat waktu adalah keutamaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tanda bahwa seseorang telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan adalah keistikamahannya dalam memburu shalat secara ontime. Keutamaannya akan berlipat apabila dilakukan di masjid dan berjamaah. Keutamaan ini akan berlipat lagi tatkala kita mempersiapkan diri sebelum melaksanakannya dengan menunggu sebelum adzan berkumandang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengapa menunggu shalat menjadi sebuah keutamaan? Ada empat alasan. Pertama, menunggu shalat adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai analogi, seseorang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa merindukan perjumpaan dengan yang dicintainya. Tatkala ada janji bertemu, ia akan berusaha untuk tidak terlambat. Begitu pula saat kita merindukan Allah, kita akan selalu menunggu berjumpa dengan-Nya dan akan selalu menunggu perjumpaan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua, menunggu waktu shalat akan membuka kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak kebaikan lainnya, seperti membaca Alquran, &lt;i&gt;i'tikaf&lt;/i&gt;, berdzikir, membereskan tempat shalat, dan lainnya. Satu kebaikan biasanya akan mengundang kebaikan lainnya. Ketiga, saat menunggu shalat kemungkinan bermaksiat menjadi sangat kecil. Keempat, saat menunggu shalat kita akan berusaha menjaga kebersihan diri dan hati. Bukankah salah satu syarat sahnya shalat adalah bersih badan dan tempat shalat dari najis?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena itu, Rasulullah SAW menjanjikan bahwa seseorang dikategorikan sedang shalat, tatkala ia meniatkan diri menunggu datangnya waktu shalat. Bahkan, saat itu para malaikat terus melantunkan doa agar kita dirahmati Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya salah seorang di antara kalian (terhitung) di dalam shalat selama tertahan oleh shalat sedang para malaikat mendoakan mereka: 'Ya Allah, ampunilah dia; ya Allah rahmati dia, selama dia tidak berdiri dari tempat shalatnya atau ber-&lt;i&gt;hadats&lt;/i&gt; (batal wudhunya)." (HR Bukhari).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hadis ini akan lebih aplikatif dan bernilai sosial andai tengat waktu menunggu tersebut makna dan cakupannya diperluas. Pemaknaannya tidak sekadar menunggu shalat di masjid, tapi menempatkan semua aktivitas hidup dalam skup menunggu datangnya waktu shalat. Hidup kita, hakikatnya, adalah perpindahan dari satu shalat ke shalat lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alangkah indahnya bila kita mampu mengubah paradigma berpikir bahwa kerja kita, sekolah kita, tidur kita, rekreasi kita; pendeknya semua aktivitas hidup kita, adalah "aktivitas sampingan" dari shalat. Bila paradigma berpikir ini digunakan, maka tak akan sekali pun kita melalaikan kumandang adzan, karena itulah kerja utama kita. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang tak kalah penting, semua aktivitas kita di luar ritual shalat, insya Allah akan makin berkualitas karena dilandasi nilai dzikir, nilai amal ma'ruf nahyi munkar, dan keinginan menjaga kebersihan diri. Boleh jadi, semua aktivitas kita akan bernilai shalat, karena kita meniatkannya sebagai aktivitas menanti perjumpaan dengan Allah SWT. Dan itulah yang telah dilakukan Rasulullah SAW, Khalifah Umar bin Khathab, dan para sahabat lainnya. &lt;i&gt;Wallahu a'lam bish-shawab&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;            &lt;span style="color: rgb(107, 107, 107);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;( Ems )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-114965617406303992?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/114965617406303992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=114965617406303992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965617406303992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965617406303992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/merindukan-shalat.html' title='MERINDUKAN SHALAT'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-114965592644946000</id><published>2006-06-06T21:42:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T21:52:06.520-07:00</updated><title type='text'>KARAMAH MENDAWAMKAN SHALAT SUBUH DI MASJID</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#5c5ccf;"&gt;Oleh Uti Konsen U.M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    TATKALA kezaliman Al Hajjaj bin Yusuf Atssaqafi, Gubernur Damaskus pada zaman Bani Omayah --dirasakan rakyat makin memuncak, bermufakatlah sejumlah tokoh untuk mengambil tindakan kekerasan-- coup de'tat. Mereka merasa yakin, gubernur yang keras kepala itu tidak bisa dinasehati lagi. Jadi, ia harus digulingkan supaya rakyat terlepas dari tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai bermusyawarah, dikirimlah delegasi untuk menghadap ulama besar Hasan Al Basri. Maksudnya untuk meminta fatwa. Mereka berharap agar Ulama Besar yang sangat berwibawa dan dicintai rakyat ini memberikan fatwa membenarkan tindak kekerasan yang akan mereka ambil. Dan bila ini yang terjadi mereka yakin seluruh rakyat akan mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar maksud dari delegasi itu, Hasan Al Basri berkata: "Insya Allah, esok kalian datang lagi kemari." Lalu apa yang dilakukan oleh tokoh Sufi ini? Di sepertiga malam yang akhir, beliau keluar menuju masjid terbesar di kota Damaskus. Dan usai salat subuh, beliau berkeliling lagi melihat keadaan jemaah di masjid-masjid lain. Ternyata pengunjung salat subuhnya sangat sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya utusan tersebut datang menghadap sang Ulama. Betapa kagetnya mereka tatkala mendengar perkataan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to the point&lt;/span&gt; dari Ulama Besar itu: "Demi Allah. Aku tidak menyetujui tindakan kekerasan yang akan kalian lakukan. Tuhan tidak akan memberikan kepada Al Hajjaj untuk bersewenang-wenang, kecuali sebagai siksaan atau tebusan atas kesalahan kita. Sungguh-sungguh tidak wajar bila siksaan Tuhan dihadapi dengan menjalankan kekerasan. Suasana buruk ini hanya dapat diperbaiki bila kita bertobat dan kembali tekun mengabdi kepada Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, apa maksud Pak Kiai," tanya ketua delegasi dengan penuh keheranan. Dengan suara mantap dan berwibawa beliau berkata: "Tidakkah kalian tahu, bahwa Allah SWT telah berfirman dalam satu hadis qudsi, 'Nyaris Aku menurunkan azab atau bala kepada penduduk bumi saking banyaknya dosa yang dilakukan oleh anak Adam. Tapi ketika Kusaksikan masih ada hamba-Ku yang bangun untuk memohon ampunan-Ku di sepertiga malam yang akhir, kemudian mereka memakmurkan masjid dan menjalin silaturrahmi, maka azab, balak itu Aku tangguhkan." Kemudian beliau mengajak masyarakat untuk kembali memakmurkan masjid terutama waktu salat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Ulama Besar itu meninggalkan kesan sangat dalam. Ajakan beliau, segera mereka patuhi. Dengan kalimat lain rencana coup de'tat itu sirna dari benak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat seorang dokter, Hasan Al Bashri memandang penyakit bukan semata-mata merupakan akibat penularan kuman-kuman yang disebarkan oleh lalat. Tetapi darah yang telah kotor dalam tubuh terutama yang jadi factor penyebab sakit. Sebab itu bila terjadi suatu penyakit orang tidak usah membunuh lalat tetapi harus memeriksa darahnya sendiri. Andaikata darah memang telah kotor maka darah itu yang lebih dulu harus dibersihkan. Darah yang bersih sangat kuat dan tidak bisa dijangkiti kuman yang disebabkan oleh lalat manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana keadaan Al Hajjaj selanjutnya? Dikisahkan beberapa tahun kemudian gubernur Al Hajjaj bin Yusuf menderita sakit saraf. Ia berteriak-teriak sepanjang jalan. Akhirnya ia meninggal dalam keadaan sangat menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Hasan Al Basri RA di atas, jelas bukan berpangkal dari buah fikiran sendiri. Sebab Rasulullah SAW memberi janji bahwa jika salat subuh Anda kerjakan di masjid, maka Allah akan melindungi Anda seharian penuh. Diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menunaikan salat subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminan-Nya. Barangsiapa membunuh orang yang menunaikan salat subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka". (HR Muslimm). Jaminan Allah, artinya dalam perlindungan Allah. Inilah perlindungan Rabbani, bagi orang yang melaksanakan salat subuh. "Anda akan merasakan percaya diri pada hari yang dimulai dengan salat subuh. Anda akan merasa lebih tegar menghadapi ujian dan cobaan di hadapan para taghut dan diktator. Anda berada dalam lindungan Raja dari semua raja, yang mencipta segala kehidupan. Lalu apalagi yang Anda inginkan? Semua ini diperoleh hanya dengan dua rakaat. Dua rakaat inilah yang menguatkan kebenaran hati dan mengokohkan iman. Itulah sebabnya Allah SWT melindungi Anda", demikian antara lian tulis Dr Raghib As-Sirjani dalam bukunya Misteri Salat Subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarah diantara kemenangan paling populer yang ada kaitannya dengan salat subuh adalah kemenangan atas kaum Yahudi Khoibar. Dimana ketika itu Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya jika kita telah menempati halaman rumah satu kaum, maka itulah seburuk-buruk pagi hari bagi orang-orang yang telah diberi peringatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh generasi yang mampu meraih kemenangan - dengan izin Allah- tentunya adalah generasi yang giat memakmurkan masjid-masjid ketika salat subuh, sama seperti mereka meramaikannya dalam salat zuhur dan Asar. Mereka adalah generasi yang faham bahwa perintah agar barisan salat diluruskan dan jangan sampai ada celahnya, itu merupakan awal mula lurusnya barisan mujahidin yang akan meraih kemenangan atas musuh," kilah Dr Imad Ali Abdus Samu Husain dalam bukunya Keajiban Salat Subuh. Wallahualam.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: Pontianak Post&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-114965592644946000?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/114965592644946000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=114965592644946000' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965592644946000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965592644946000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/karamah-mendawamkan-shalat-subuh-di.html' title='KARAMAH MENDAWAMKAN SHALAT SUBUH DI MASJID'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-114965435587402110</id><published>2006-06-06T21:17:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T21:36:35.403-07:00</updated><title type='text'>RAHASIA SHALAT SUBUH</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);"&gt;Oleh : Dr. dr. Barita Sitompul SpJP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalat selanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah “ash shalatu khairun minan naum”.&lt;br /&gt;Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat “ash shalatu khairun minan naum”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain. Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baik karena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat i tu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta atau bus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati. Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur. Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat “ash shalatu khairun minan naum”? Shalat subuh lebih baik dari tidur? Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok).&lt;br /&gt;Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu: Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran. “Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida. Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga. Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus. Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuhan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini.&lt;br /&gt;Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Dari sahabat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-114965435587402110?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/114965435587402110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=114965435587402110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965435587402110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965435587402110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/rahasia-shalat-subuh.html' title='RAHASIA SHALAT SUBUH'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29379126.post-114965344872495539</id><published>2006-06-06T21:09:00.001-07:00</published><updated>2006-06-06T21:27:09.796-07:00</updated><title type='text'>KEAJAIBAN SHALAT SUBUH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(92, 92, 207);font-family:verdana,arial;" &gt;Oleh Uti Konsen U.M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;SEORANG penguasa Yahudi berkata: "Kami baru takut terhadap umat Islam jika mereka telah melaksanakan salat subuh seperti melaksanakan salat Jum'at." (Buku Misteri Salat Subuh oleh Dr Raghib As-Sirjani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika salat subuh tengah dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masjid itu mengadu kepada Rabbnya Yang Agung". (Buku Keajaiban Salat Subuh oleh Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik pelaksanaan salat subuh, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan salat subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat Nabi SAW berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu. Pernah suatu ketika mereka terlambat salat subuh dalam penaklukkan Benteng Tsatar. "Tragedi" ini membuat sahabat semisal Anas bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarah, kejayaan lahir dan batin umat Islam zaman dahulu karena mereka yang melaksanakan salat subuh seperti yang ditakutkan oleh penguasa Yahudi di atas yaitu jemaahnya sama seperti salat Jum'at. Pada zaman salafus sholih, masjid-masjid selalu penuh sesak dengan orang-orang yang menunaikan salat subuh seperti tidak ada bedanya dengan saat mereka menunaikan salat Jum'at. Keadaan ini masih terlihat di tanah suci Makkah dan Madinah saat ini. Pantaslah di sana kehidupan masyarakatnya makmur, relatif aman dan harga kebutuhan hidup stabil sejak puluhan tahun yang silam. Misalnya harga telur, apel, ayam, pisang dan udang tetap tidak berubah sama dengan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking sayangnya Rasulullah SAW kepada pengikutnya, sampai beliau berdoa: "Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun subuh". Dan dalam hadis lain beliau menjamin bila orang senang bangun subuh maka rezeki dan hidupnya akan berkah seperti sabda Rasulullah SAW: "Berpagi - pagilah kamu mencari segala keperluan atau hajat, karena sesungguhnya diwaktu pagi itulah terdapat berkah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa maka salat subuh itu memperoleh perhatian utama? Sebab Allah SWT sendiri telah menegaskannya dalam Al Quran: "Dan (dirikanlah pula salat subuh). Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". ( Al Isra (17) ayat 78 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat subuh memang merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Jika ada seorang mukmin-walaupun ia jago puasa, tilawah Al Quran, berzikir atau bahkan ia seorang Dai sekalipun, namun ia masih merasa berat untuk bangun menghadiri salat subuh berjemaah di masjid, maka ia harus banyak bermuhasabah, jangan-jangan ia termasuk dalam katagori sabda Rasulullah SAW : "Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat subuh" (HR.Ahmad), demikian antara lain komentar Dr Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya "Keajaiban Salat Subuh". Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Raghib As-Sirjani, seperti dikatakannya: "Seorang dai yang tidak menjaga salat subuh dalam berjemaah, tetapi dia berbicara dan berceramah dalam sebuah majelis tentang tegaknya agama Allah dimuka bumi, Naif !".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar statement kedua ulama dan penulis Timur Tengah di atas, sudah pasti peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah SAW. Sebab bila beliau meragukan keimanan seseorang maka Nabi SAW akan menelitinya pada saat salat subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang tadi salat subuh, maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati. Ubai bin Ka'ab berkata: "Rasulullah SAW pernah salat subuh, kemudian berkata, 'Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan salat?' Mereka menjawab, ' Tidak '. Beliau berkata lagi , ' Si Fulan ? '. Mereka menjawab , ' Tidak '. Maka Nabi Mulia itu berkata: "Sesungguhnya dua salat ini (subuh dan Isya) adalah salat yang berat bagi orang-orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam salat subuh dan isya, maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. (HR. Ahmad dan An-Nasai). Ibnu Umar RA pun berkata: "Ketika kami tidak melihat seseorang dalam salat subuh atau isya, kami langsung berperasangka buruk kepadanya." Dan ujar Imam Malik lagi : "Batas antara kita dengan orang-orang muanfik adalah menghadiri salat isya dan subuh, sebab orang-orang munafik tidak sanggup menghadiri kedua salat tersebut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan satu ketika Rasulullah SAW salat subuh di masjid Nabawi. Begitu pulang beliau mendapati putrinya Siti Fatimah masih tidur. Maka beliau pun membalikklan tubuh Fatimah dengan kakiknya, kemudian berkata: "Hai Fatimah, bangun dan saksikanlah rezeki Robbmu, karena Allah SWT. membagi-bagi rezeki para hamba antara salat subuh dan terbitnya matahari". ( HR.Baihaqi ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain waktu Rasulullah SAW usai memipin salat subuh, Beliau tidak melihat Ali bin Abi Thalib RA. Khawatir menantunya ini sakit, beliau langsung menuju rumahnya. Ketika bertemu dengan Siti Fatimah, mendapat penjelasan bahwa saking asyiknya Ali, suaminya beribadah malam, maka salat subuh dilakukan di rumah. Rasulullah SAW kemudian berkata kurang lebih: "Salat subuh yang dilakukan secara berjemaah (di masjid), lebih bagus daripada ibadah yang dilakukan seseorang sepanjang malam di rumah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Barangsiapa yang melaksanakan salat isya secara berjemaah , maka ia seperti salat malam separoh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan salat subuh secara berjemaah, maka ia seperti salat malam satu malam penuh". Sehingga Ibnu Umar RA pun menegaskan: "Sungguh, aku bisa melaksanakan salat subuh secara berjemaah, itu lebih aku sukai daripada salat malam semalam suntuk". Sudah pasti yang paling baik adalah istiqamah salat malam di rumah sesuai kemampuan dan ditutup dengan salat subuh secera berjemaah di masjid.. Wallahualam.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:100%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(92, 92, 207);font-family:verdana,arial;" &gt;Pontianak Pos, Jumat, 7 April 2006&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29379126-114965344872495539?l=tazqiroh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazqiroh.blogspot.com/feeds/114965344872495539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29379126&amp;postID=114965344872495539' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965344872495539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29379126/posts/default/114965344872495539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazqiroh.blogspot.com/2006/06/keajaiban-shalat-subuh.html' title='KEAJAIBAN SHALAT SUBUH'/><author><name>abujundi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15624531664116265542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
